Dari Jawa atau dari
Minangkabau ke tanah Deli, sekarang tidaklah “merantau” lagi. Bahkan dari
Sabang sampai Merauke pun kita tidak merantau lagi. Tetapi dengan membaca
“Merantau ke Deli” anak keturunan yang datang di belakang akan dapatlah
merenung, betapa telah jauhnya jalan yanng telah kita tempuh. Maka
berusahalah mereka memeliharanya dan membuatnya lebih besar dan besar lagi ...
Tiga kali kita menyebrangi hidup, apabila ketiga kalinya telah
tersebrangi dengan selamat, bahagialah kita. Pertama hari kelahiran, hari suci.
Kedua hari pernikahan, hari bakti. Ketiga hari kematian, hari yang sejati.
Majulah ke muka, tempuhlah lautan Bahrullah yang luas itu,
beranikan hati mennghadapi gelombang yang bergulung-gulung. Karena dengan
bermain ombak dan membiasakan menempuh gelora itu makanya penyakit mabuk laut
akan hilang. Pada tiap-tiap bertemu dengan suatu kesusahan dan suatu halangan
di dalam bahtera rumah tangga, itu adalah ujian; bila sampai ke sebaliknya
tertegak pulalah sebuah tiang yang teguh dan sendi yang kuat, untuk membina
rumah kecintaan itu. Di mana letak keberuntungan kalau bukan dalam hati?
Adapun sebab-sebab yanng menimbulkan rasa beruntung di dalam
hati, adalah rasa percaya mempercayai di dalam rumah tangga, di antara suami
dengan istrinya, demikian juga kaum kerabat sekalian. Keberuntungan yang
demikian itu tidak dapat dihargai dengan uang, dan tidak dapat dinilai dengan
barang.
Kesulitan yang engkau rasakan itu, hanyalah sebelum ditempuh.
Kalau sudah ditempuh hal itu, sudah mudah
Kerapkali kita tertipu dengan orang-orang tua yang membawa
rambutan beberapa jerat pagi-pagi dari kampungnya yang jauh, mengayuh kereta
angin berpayah-payah. Janganlah kita sangka bahwa mereka itu golongan miskin.
Kadang-kadang karena hematnya, dan karena cita-citanya itu, bergulung-gulung
uang kertas yang asalnya dari ketip, ketip menjadi uang tengahan, tengahan
menjadi rupiah, dan bila cukup uang rupiah itu sepuluh buah, ditukarkan kepada
uang kertas. Bertahun-tahun kemudian, barulah uang itu keluar dari penaruhan,
kadang-kadang untuk belanja ke Mekkah, dan kadang-kadang untuk belanja kenduri
kematiannya.
Meskipun mereka menderita payah, tetapi mata mereka hidup.
Tidak ada debar dan goncang jantung, melainkan berjalan terus menuju maksud.
“Makan sirih ujung-ujungan
kurang kapur tambahi ludah
Tanah Deli untung-untungan,
hidup syukur mati pun
sudah....”
Related Products
Di Bawah Lindungan Kaabah
"Hidupnya sangat sederhana, tiada lalai daripada beribadat, tiada suka membuang-buang waktu kepada ..
RM12.00


